PortalAceh.Com | Aceh Timur 04 Mei 2026 – Kasus dugaan penyalahgunaan wewenang dan pengelolaan dana desa di salah satu Gampong, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Aceh Timur, kembali memanas. Kali ini, dugaan kuat menyebut bahwa suami dari Sekretaris Desa (Sekdes) yang juga merangkap sebagai Geuchik tersebut turut bermain dan mengintervensi urusan pemerintahan desa.
Hal ini terungkap setelah tim media SijiAceh.Com berusaha mengonfirmasi terkait pemberitaan sebelumnya yang berjudul "Terkait Polemik di Sungai Raya, Oknum Sekdes dan Ketua Organisasi Ilegal Salah Kaprah".
Menolak Dikonfirmasi, Suami Marah-marah
Menariknya, saat pihak media mencoba meminta keterangan kepada oknum Sekdes yang bersangkutan, ia sama sekali tidak memberikan tanggapan. Ternyata, diamnya Sekdes tersebut lantaran dilarang oleh suaminya untuk berbicara dengan laki-laki, termasuk dengan awak media.
Bukti rekaman percakapan menunjukkan, pada Sabtu, 2 Mei 2026 sekitar pukul 12:04 WIB, seseorang yang mengaku sebagai suami Sekdes tersebut menelepon awak media dengan nada emosi dan marah-marah.
Ia menanyakan kesalahan istrinya dan menuding pemberitaan yang dimuat tidak berimbang.
"Kenapa beritanya begitu? Salah apa istri saya?" ujarnya lewat telepon dengan nada tinggi.
Menanggapi hal tersebut, awak media menjelaskan bahwa tim sudah berusaha menghubungi Sekdes namun tidak digubris.
"Kan tidak mungkin kalau tidak ada tanggapan, berita tidak kami tayangkan. Kalau tidak ada jawaban, maka berita tetap kami muat dengan keterangan bahwa yang bersangkutan enggan dikonfirmasi," tegas awak media.
Mengaku Istrinya Dilarang Bicara dengan Laki-laki
Sekitar pukul 13:36 WIB, pria tersebut kembali menelepon dan menawarkan diri untuk bertemu guna memberikan konfirmasi mewakili istrinya. Tawaran ini langsung ditolak mentah-mentah oleh awak media, mengingat yang harus memberikan keterangan resmi adalah yang bersangkutan, bukan orang lain.
Dalam pembelaannya, suami Sekdes itu justru melontarkan alasan yang dinilai aneh.
"Dia itu istri saya, apa boleh dia tidak boleh bicara dengan laki-laki lain?," tanyanya.Mendengar jawaban tersebut, pihak media mempertanyakan logika tersebut. Pasalnya, istrinya menjabat sebagai Sekdes bahkan merangkap Geuchik, yang mana dalam tugasnya pasti berinteraksi dengan masyarakat luas, termasuk laki-laki.
"Lalu apa semua penduduk di Gampong tersebut wanita semua? Bagaimana ia memimpin dan melayani warga jika dilarang bicara dengan laki-laki?" tanya awak media.
Intimidasi hingga Tawaran Uang
Ketika terpojok dan tidak mampu menjawab, pria tersebut beralih melakukan intimidasi. Ia menyombongkan diri memiliki kenalan dan keluarga di kepolisian maupun militer.
"Saya punya kenalan di Polda, punya famili di Kodam. Mau saya telepon sekarang?" ancamnya.
Dengan tegas awak media menjawab, "Silakan saja."
Gagal mengintimidasi, pria tersebut lantas mencoba menyuap dengan menawarkan sejumlah uang. Ia bertanya berapa bayaran yang diterima awak media untuk memuat berita tersebut.
"Sayakan punya uang juga. Itu mobil saya tidak ada dua nya di Kota Langsa. Kita tahu bagaimana wartawan, ujung-ujungnya kan uang. Sekarang sebutkan angkanya," ucapnya (dalam bahasa Aceh)Bahkan ia mengaku pernah memberikan uang sebesar Rp 2 juta kepada wartawan lain yang sebelumnya memberitakan masalah pembangunan parit di desa tersebut.
"Berapa kamu dibayar untuk naikkan berita? Sebutkan saja angkanya," tambahnya.
Tegas Tolak Suap
Tawaran suap tersebut langsung ditolak dengan tegas oleh awak media SuhateRakyat.Com.
"Saya tidak terima sepeser pun dari narasumber. Kalau Abang mau bayar, datangi narasumber saya yang sudah Abang kenal itu, berikan uang itu kepadanya. Saya tidak akan menerima uang sepeser pun dan dari siapapun terkait kasus ini," jawab awak media.
"Perlu Abang ketahui, rambut sama hitam, tapi jalan pikiran berbeda-beda. Jangan pernah samakan saya dengan wartawan yang pernah Abang kenal sebelumnya," tegasnya.Lebih lanjut dijelaskan, tugas media adalah sebagai kontrol sosial yang tidak memihak. Media hanya menulis apa yang dilaporkan masyarakat dan apa jawaban dari pihak terkait.
"Tugas saya menulis laporan masyarakat dan jawaban dari Anda. Mana yang benar dan salah, masyarakatlah yang menilai," pungkasnya.
Dari rangkaian kejadian ini, semakin menguatkan dugaan bahwa suami oknum Sekdes tersebut sangat dominan dan diduga kuat turut campur tangan bahkan 'bermain' dalam setiap kebijakan, termasuk pengelolaan keuangan desa saat istrinya merangkap jabatan.(*)
(Ali)


Komentar0