Oleh: Moeflich H. Hart
Prtal Aceh .com | KHIDIR AS menerapkan model pembinaan yang dilakukannya kepada Nabi Musa AS untuk dijadikan pelajaran oleh manusia. Musa dididik oleh Khidir untuk menaklukan kesombongannya karena merasa ilmu dan kemampuannya sudah tinggi sebagai nabi. Khidir membimbing Musa untuk mengetahui dan menyadari bahwa masih ada orang yang ilmunya lebih tinggi dibanding dia, bahwa banyak sekali dalam kehidupan ini yang belum dia ketahui.
Makanya, tidak patut bagi manusia berlaku sombong. Jangan heran menerima ilmu yang “aneh-aneh” seperti dipersepsi Musa terhadap Khidir karena memang ilmunya manusia hanya sedikit sementara ilmu Allah itu maha luas yang banyak tidak terjangkau oleh pikiran manusia, termasuk yang sederhana-sederhana seperti yang ditunjukkan “keanehan” Khidir kepada Musa.
Di bawah ini adalah lima sikap yang harus dipraktekkan dalam menerima ilmu baru atau perintah guru yang kita belum mengerti. Lima sikap ini adalah metode pembinaan Khidir AS kepada Nabi Musa AS.
1. Deuleukeun (Lihat!)
Deuleukeun artinya lihat! Ini dilakukan oleh mata. Lihatlah dan tataplah apa yang ada?
Apa yang terlihat? Alam, fisik, benda, air, langit, makhluk, suasana, tragedi, peristiwa? Keanehan, keganjilan, hukuman, keagungan, kehebatan, kebesaran?
Apa yang kita lihat? Ada apa? Apa yang terjadi? Apa yang bisa kita perhatikan? Dengan kata lain, iqra! Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu. Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu.
Ketika Musa mengikuti Khidir, Khidir banyak memerintah Musa agar deuleukeun (lihat!) dari apa yang Khidir lakukan. Musa melihat yang aneh-aneh dan tidak mengerti dari apa yang dilakukan Khidir: Perahu dibocorkan, anak dibunuh, rumah diruntuhkan, gubuk reyot dibangun dan sebagainya.
Bila seorang murid melihat peristiwa atau menerima perintah dari mursyidnya sebagai bimbingan atau pesan, maka deuleukuen atau lihatlah. Apa peristiwanya, apa maksud dan rahasianya?
2. Regepkeun (Dengarkan!)
Setelah itu, regepkeun! Dengarkan!! Setelah melihat, kemudian dengarkan dengan baik. Regepkeun bukan sekadar mendengar tapi sambil memperhatikan dan menyimak. Regepkeun lebih dalam daripada deuleukeun.
Dengarkan lebih dalam dari hanya melihat. Deuleukeun melalui mata, regepkeun melalui telinga. Ketika kita disuruh melakukan sesuatu, dengarkan baik-baik apa yang diperintahkan, jangan salah, sehingga pekerjaan dikerjakan dengan baik dan sempurna.
Perintah Allah, perintah nabi, perintah guru, perintah orang tua, harus diregepkeun agar benar dalam melaksanakannya.
Musa diperintahkan oleh Khidir untuk mendengarkan baik-baik instruksinya, yaitu jangan bertanya sebelum waktunya, dan jangan protes terhadap apapun yang dilakukan Khidir di depan matanya.
Ketika menerima instruksi, dengarkan apa perintahnya? Harus bagaimana? Harus diapakan? Bagaimana caranya? Jangan salah sebab nanti hasilnya salah, jadi percuma. Jangan membuang-buang energi, pikiran dan uang untuk sebuah kesalahan.
Rugi. Apalagi perintah spiritual, tidak sembarangan. Benar salahnya melaksanakan perintah guru, perintah orang tua, perintah atasan, apalagi perintah Allah menunjukkan kualitas diri kita yang asli, yang sesungguhnya. Maka, mendengarkan dengan baik dan tepat, sangat penting untuk menunjukkan kualitas diri kita dalam belajar, menerima perintah, dan secara umum, dalam berkomunikasi.
3. Tengetkeun (Perhatikan!)
Setelah dengarkan (regepkeun) kemudian perhatikan (tengetkeun!). Perhatikan! Perhatikan apa yang disampaikannya, perhatikan pesannya, ajarannya. Setelah disampaikan, rahasia dibukakan, hikmah diceritakan, dan kita jadi tahu maksud, arti, makna semua itu, maka ingat-ingatlah, perhatikan, jangan lupa.
Belajarlah dari kekurangan diri dan belajarlah dari kelebihan orang lain. Ambil hikmahnya, kemudian ubahlah diri sendiri, menjadi lebih baik, menjadi lebih tawadhu, menjadi lebih bijaksana.
Setelah makna dan rahasia yang dilakukan Khidir dibukakan kepada Musa, dan Musa menjadi faham dan sadar bahwa ilmunya masih rendah, Musa diperintahkan Khidir untuk tengetkeun yaitu agar memperhatikan, agar sadar dan agar mengambil hikmah. Khidir mengingatkan Musa bahwa dalam kehidupan ini banyak rahasia, banyak ilmu dan hikmah.
Maka belajarlah, berubahlah dan tingkatkan diri. Bila rahasia perintah dan hikmah sudah dibukakan, sudah diberitahukan, maka merenunglah, ingat-ingatlah pesannya, tengetkeun! Kesalahan jangan terulang, kualitas harus ditingkatkan, kewaspadaan harus diasah, usahakan jangan berbuat kesalahan lagi. Tingkatkan kualitas diri, belajarlah dari kesalahan.
4. Rarasakeun (RRasakan! )
Langkah selanjutnya adalah rasakan, hayati! Rarasakeun menggunakan hati, perasaan, bukan pikiran atau logika. Caranya adalah merenung. Disini hati harus bekerja menemukan hikmah, pelajaran, pengakuan akan kekurangan diri dan pengakuan akan kebenaran. Setelah Musa sadar akan kekurangan diri dan mengakui kelebihan ilmu Khidir, Musa diminta ngararasakeun atau merasakan, merenungkan dan menghayati apa yang sudah dilalui bersama, pengalaman yang sudah dirasakan.
Dalam kehidupan sehari-hari, indikasi ngararasakeun adalah munculnya kesadaran diri, misalnya melaui ungkapan-ungkapan yang keluar dari mulut sambil merenung:
“Iya ya, saya masih banyak kekurangan. Ilmu saya tidak berarti, yang saya ketahui ternyata masih sangat sedikit.” Atau, “Iya ya, saya ini kok sombong dengan secuil ilmu yang saya miliki. Mestinya itu tidak boleh terjadi, saya jadi malu.” Atau, “Iya bener, ternyata banyak ilmu yang bisa saya pelajari dari hal-hal yang tampaknya aneh.” Atau, “Saya sadar sekarang, saya perlu banyak nasehat.
Saya ingin meningkatkan kesadaran diri.” Ungkapan-ungkapan seperti itu muncul dalam hati Musa ketika sadar bahwa ternyata ada orang yang lebih tinggi ilmunya dari dirinya yang seorang nabi.
Ketika rahasia instruksi atau perintah guru atau mursyid dibukakan atau diceritakan, kesadaran yang harus muncul adalah ungkapan-ungkapan seperti di atas sebagai indikasi bahwa kita ngararasakeun, bahwa hati kita bekerja dan berfungsi, bukan "qalbun mayit" alias hati yang mati. Bila setelah melaksanakan perintah, tidak ada perenungan dan kesadaran.
Berarti kita belum sanggup ngararasakeun. Bila ngararasakeun tidak dilatih, berarti hati kita tidak akan hidup dan kita tidak akan pernah bisa melaksanakan yang terakhir yang paling penting yaitu narjamahkeun (menterjemahkan) apa saja dalam kehidupan agar menjadi berarti dan penting untuk diri dan keselamatan kita.
5. Tarjamahkeun (Terjemahkan!)
Terakhir adalah tarjamahkeun, terjemahkan dalam kehidupan!! Apa yang dipelajari, apa yang didapat, ilmu yang ditekuni, nasehat apa yang diterima, gemblengan guru, terjemahkan dalam kehidupan agar kita bisa membaca alam, membaca kehidupan, agar kita sukses dan berhasil. Ini adalah tahap yang paling tinggi dalam menerima ilmu dan menerima nasehat, yaitu memfungsikan apa yang kita miliki dalam kehidupan.
Menterjemahkan adalah melaksanakan fungsi-fungsi nubuwwah, fungsi kekhalifahan, fungsi kepemimpinan dan fungsi kemanusiaan. Musa menterjemahkan gemblengan Khidir dengan menjadi nabi yang lebih kuat, lebih tinggi lagi ilmunya, menjadi lebih tawadhu, dan menjadi lebih yakin kepada Allah SWT.
Menterjemahkan perintah dan nasehat guru, mursyid, dan rahasia-rahasianya adalah untuk meningkatkan kualitas diri dalam kehidupan agar lebih sadar dari orang lain, lebih peka, lebih terpelihara, tidak biasa dengan kesalahan, lebih berhasil dan sukses dalam kehidupan, selamat dunia akhirat.[] (Ilmu Hikmah Lima)##
(Red)



Komentar0